Selasa, 10 April 2012

Padat Karya Tanam Keladi di Kampung Sunde

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Padat Karya Penanaman Keladi Kampung Sunde Distrik Biak Timur Kabupaten Biak Numfor, maka pada tanggal 3 April 2012 telah dilaksanakan Penanaman Keladi secara simbolis oleh Kepala Distrik Biak Timur, Agus Filma S.Sos.  Kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang bersumber dari dana APBN dan disalurkan melalui Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Biak Numfor.

Kepala Puskesmas Bosnik, Ibu Marike Rumbiak turut hadir pada acara Penanaman
Pada kesempatan penanaman dimaksud, Kepala Distrik Biak Timur mengharapkan apa yang dilakukan oleh Pemerintah ini bisa dimanfaatkan untuk memberdayakan masyarakat untuk dapat mengolah kebun-kebunnya kembali, mengingat masyarakat sudah banyak meninggalkan lahan-lahan yang sebenarnya menyimpan potensi yang luar biasa.

Lahan yang baru dibuka




Kepala Distrik juga mengharapkan setelah program dari Pemerintah selesai yang merupakan upaya untuk memotivasi masyarakat, maka masyarakat harus tetap mengembangkan dan membudidayakan Tanaman Keladi sebagai salah satu jenis makanan pokok Papua, karena ada indikasi perubahan Pola Makanan masyarakat yang telah bergantung pada beras dibandingkan makanan pokoknya seperti Sagu, Keladi dan lain-lain





Penanaman secara bersama
Di Lahan Bokbori tempat penanaman Keladi  juga terdapatHutan tanaman Jadi yang dikembangkan Masyarakat

Kerjasama seluruh elemen Pemerintah dan Masyarakat mendukung Penanaman Keladi di Lahan Bokbori Kampung Sunde Distrik Biak Timur

Kerajinan Biak Timur Warnai Pameran di Rakon PKK Provinsi Papua

 Dalam rangka Rapat Konsultasi  (Rakon) Tim Penggerak PKK se Provinsi Papua yang diselenggarakan dari tanggal 29 s/d 30 maret 2012 di Aerotel Irian Biak, maka hasil-hasil kerajinan dari Biak Timur yang dikoordinir Tim Penggerak PKK Distrik Biak Timur diikutkan dalam Pameran pada Stand TP. PKK Kabupaten Biak Numfor.  Diharapkan dengan Pameran dimaksud dapat diperkenalkan hasil-hasil Kerajinan Masyarakat di Distrik Biak Timur sehingga ke depan dapat terus dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan masyarakat.


 Pada kesempatan Pameran dimaksud Ketua Tim Penggerak PKK Distrik Biak Timur, Ny. Risnawati Filma selalu meninjau stand untuk melihat secara langsung Prospek Pemasaran dari hasil-hasil kerajinan dimaksud untuk menjadi bahan evaluasi dalam Pemberdayaan PKK di Distrik Biak Timur.
Hasil-hasil Kerajinan Ibu-ibu Distrik Biak Timur











Senin, 09 April 2012

Keunikan Angka 13 pada Peresmian Distrik Oridek Kabupaten Biak Numfor Provinsi Papua


         Hasil Pemekaran Distrik Biak Timur, yaitu Distrik Oridek diresmikan oleh Bupati Kabupaten Biak Numfor, Yusuf Melianus Maryen pada tanggal 13 Pebruari 2008.  Distrik tersebut dibentuk berdasarkan Peraturan daerah Kabupaten Biak Numfor Nomor 4 Tahun 2007 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi dan Tata kerja Pemerintah Distrik Bondifuar, Yawosi, Andey, Swandiwe, Bruyadori, Orkeri, Poiru, Aimando Padaido dan Oridek di Kabupaten Biak Numfor dalam wilayah Provinsi Papua dan Distrik Oridek merupakan Distrik Pertama yang diresmikan dari 9 Distrik Baru di Kabupaten Biak Numfor Tahun 2008.
         Anggapan sial pada angka 13 sempat mewarnai Penetapan tanggal 13 Pebruari sebagai hari lahir Distrik baru tersebut, namun mengingat dalam agama telah diatur bahwa segala sesuatu Allah SWT yang menentukan maka Peresmian tersebut tetap dilaksanakan.  Dalam Agama Islam mempercayai segala sesuatu yang dapat membawa kemudharatan/ kesialan bagi manusia dengan menampik ketentuan Allah SWT disebut Tathayyur atau Thiyarah, dan Thiyarah itu adalah Syirik (bertentangan dengan Tauhid) karena pada dasarnya bahaya dan manfaat adalah hanya di tangan Allah SWT.  Dalam Sabda Nabi Muhammad SAW dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah bersabda “Thirayah itu Syirik, semua kita pasti pernah terbersit di dalam hatinya anggapan sial karena hal-hal tertentu namun Allah menghilangkannya dengan Tawakal. (HR. Tirmidzi No 1614).        
          Setelah diresmikan ternyata memang  Angka 13  banyak mewarnai lahirnya Distrik baru tersebut yang dapat  di lihat dari Nomor SK 4 Tahun 2007 yang jika dijumlahkan (4+2+7) hasilnya 13 .  Susunan  Nama “Distrik Oridek” ternyata terdiri dari 13 huruf dan Distrik baru tersebut terdiri dari 13 Kampung atau Desa.   Kepala Distrik Oridek pertama, Muhammad Darumi  sebelumnya menjabat Kepala Kelurahan Waupnor yang ternyata terdiri dari 13 RT yang merupakan wilayah kerja Kelurahan tersebut.  Pejabat yang meresmikan Distrik Oridek Bupati Biak Numfor “Yusuf Melianus Maryen” adalah Putra Asli Wilayah Distrik Oridek dan jika jumlah namanya saja yang dijumlahkan tanpa Marga yaitu “Yusuf Melianus” juga berjumlah 13 dan beliaulah  Orang Pertama yang berhasil menjabat Bupati di Kabupaten Biak Numfor selama 2 periode dari hasil Pemilihan Kepala Daerah tanggal 29 Oktober 2008.
         Luas Distrik Biak Timur sebelum pecah menjadi 2 bagian ternyata luasnya 436 Km2 (Data Biak Numfor dalam Angka) sehingga angka luas Biak Timur sebelum Distrik Oridek memisahkan diri bila dijumlahkan juga muncul Angka 13 (4+3+6).  Disamping itu Kepala Distrik Biak Timur, Agus Filma S.Sos pada tanggal 13 Pebruari 2008 tepat 13 Tahun bekerja di wilayah Biak Timur.  Kalau dijumlahkan dengan gelarnya Nama Kepala Distrik Biak Timur juga jumlahnya 13.
         Dengan Warna Angka 13 tersebut tentunya Distrik Oridek berharap tetap ke depan maju terus mengembangkan pembangunan di wilayahnya tanpa terpengaruh Tahyul “ Kesialan Angka 13” karena menyimak dari sejarah terbukti tidak selamanya pengaruh angka 13 membawa sial.
         Salah seorang Mega Star komponis Jerman, Richard Wagner merupakan seorang tokoh yang senantiasa dirudung angka 13, tapi tidak berarti dia selalu mengalami sial mengingat Dia merupakan Salah satu Komposer yang dijunjung tinggi sejajar dengan Bach, Bethoven dan Brams. 

         Angka-angka 13 yang terkait dengan Komponis Jerman tersebut antara lain Jumlah Huruf Nama “RICHARD WAGNER” berjumlah 13 huruf dan Beliau Dilahirkan pada Tahun 1813 dan bila angka Tahunnya  dijumlahkan hasilnya 13 (1+8+1+3). Penampilan perdana Wagner di depan publik terjadi pada tahun 1831 yang jumlah angka tahunnya juga 13.
         Salah satu Opera akbarnya, Tannhaeusser dirampungkan tanggal 13 April 1845 dan Wagner pertama kali  mulai mempergelarkan Mega-Siklus “Ring Of The Nibelungen tanggal 13 Agustus 1876.   Wagner Sempat diangkat menjadi Direktur Teater Riga yang resmi dibuka pada tanggal 13 September dan  Maha Karya Wagner seluruhnya ternyata berjumlah 13.

         Karena Alasan Politis, Wagner meninggalkan tanah airnya selama 13 Tahun dan meninggal dunia pada tanggal 13 Pebruari 1883 yang kebetulan merupakan Tahun ke 13 berdirinya Federasi Jerman Baru.

         Disamping Wagner Mata Uang Amerika Dolar juga diwarnai dengan Angka 13 dan itu tidak berarti Mata Uang tersebut sial, mengingat Mata Uang Amerika yang serba 13 itu walaupun sering naik turun nilainya namun tetap diakui dan terbukti sebagai mata uang paling suprematif di dalam system Moneter Dunia. 

         Keterkaitan Dolar AS dengan Angka 13 dapat dilihat dari selembar uang kertas 1 Dolar AS, di bagian Belakang tampil Piramid dengan 13 jajaran dan semboyan diatasnya berbunyi “ANNUIT COEPTIS” yang terdiri dari 13 huruf.  Di pita tergigit paruh burung elang tertulis “E PLURIBUS UNUM” yang terdiri dari 13 Huruf.  Diatas Kepala Sang Elang bersinar 13 bintang dan diperisai terlukis 13 garis.  Cakar Kiri Elang mencengkram 13 anak panah sementara di cakar Kanan sebuah batang dengan 13 daun Zaitun yang melambangkan pada masa berdirinya semula AS terdiri dari 13 Negara bagian.

Kampung/ Desa Rimba Jaya Meraih Penghargaan dalam Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari Tahun 2010

Kepala Kampung Rimba Jaya bersalaman dengan Presiden di Istana Negara

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.460/MENHUT-II/2010 Tentang Penerima Penghargaan Pada Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari Tingkat Provinsi Tahun 2010, maka  Desa/ Kampung Rimba Jaya Distrik/ Kecamatan Biak Timur Kabupaten Biak Numfor meraih Terbaik I Provinsi Papua Kategori Desa/Kelurahan Peduli Kehutanan dalam Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari Tahun 2010. 

            Penghargaan tersebut diterima langsung Kepala Kampung/Desa Rimba Jaya, Sdr. Yakob Bart Morin di Istana Negara Jakarta sekaligus menghadiri Puncak Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2010.

         Hal tersebut tentunya mempunyai nilai kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Kabupaten Biak Numfor pada umumnya dan Distrik Biak Timur dan Kampung Rimba Jaya pada khususnya karena apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kampung Rimba Jaya dan masyarakatnya untuk melindungi Hutan dari penebangan yang tidak bertanggung jawab dapat menghasilkan penghargaan.  Disisi lain dengan penghargaan ini menuntut semua stakeholder terkait dengan Hutan Agathis di Kampung Rimba Jaya (Adibai) ini untuk bekerja lebih keras lagi melindungi Hutan Parieri yang masih sangat terancam dengan meningkatnya kebutuhan Kayu untuk pembangunan di Biak.

         Sehubungan dengan itu, Prioritas pertama untuk pelestarian Hutan perlu dilakukan pemberdayaan Adat, mengingat keberadaan Hutan Parieri di Kampung Rimba Jaya ini tidak terlepas dari Hak Adat maupun Ulayat Masyarakat selaku Pemilik Tanah yang mempunyai ikatan batin yang kuat dengan tanah, sehingga peran serta masyarakat Adat perlu dilibatkan secara aktif dalam Upaya perlindungan Hutan.  Salah satu Upaya dari adat yang dapat dilakukan antara lain melalui Sasi yang selama ini telah dilakukan dalam upaya melindungi ekosistem Laut.

          Hutan Parieri di Kampung Rimba Jaya Distrik Biak Timur merupakan Taman Hutan Raya yang luasnya kurang lebih 2.200 ha yang dikenal dengan jenis tanaman endemiknya yaitu Agathis Tabiladieri dan merupakan tegakan alam yang sudah dikelola sejak zaman Belanda.  Kawasan ini juga berfungsi Hidro Orologis, penyangga, centra benih dan dapat dikembangkan sebagai obyek wisata.

       Pada Tahun 1959 Resident Geelvinkbaai (H. Veldkamp) yang bertindak untuk dan atas nama Gouvernement dari Nederlands Nieuw Guinea melalui “Agathisproject Bosnik” mulai mengelola Pohon-pohon Agathis (damar) di Hutan Parieri dan membayar sejumlah uang dengan mengikat perjanjian selama 25 Tahun sehingga pada tahun 1984 kontrak tersebut berakhir dan Hutan-hutan tersebut kembali dikelola oleh masyarakat.  Jadi pada zaman Belanda Damar-damar di Hutan tersebut pernah dipasarkan ke luar daerah dan menghasilkan pendapatan bagi masyarakat sekitarnya melalui penjualan damar.

Turkam Pertama Barnabas Suebu, SH Tahun 2007 di Biak Timur

Kaka Bas jumpa masyarakat Biak bersama Kepala Distrik Biak Timur, Agus Filma S.Sos

Kunjungan Kaka Bas di Kampung Kajasbo tempat pengolahan Pupuk Bokasi

Kaka Bas tanam Pohon untuk penghijauan di Kampung Kajasbo

Kaka Bas menyerahkan bantuan untuk pembangunan Rumah Ibadah di Kampung Insumarires

Peserta Turkam dari Kampung-kampung di daratan Pulau Biak

Kaka Bas Tatap Muka bersama masyarakat ditemani Bupati Biak Numfor, Yusuf Melianus Maryen S.Sos, MM